Angka bebas jentik nyamuk kelompok 17

 Angka Bebas Jentik di Indonesia

Demam Berdarah Dengue adalah penyakit yang terdapat pada anak anak dan orang dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan nyeri sendi yang biasanya memburuk setelah dua hari pertama dan apabila timbul renjatan (shock) akan meningkatkan angka kematian. (Sujono Riyadi dan Suharsono, 2010)

Penyakit demam berdarah dengue merupakan salah satu masalah kesehatan penting pada masyarakat di indonesia karena jumlah penderitanya cenderung meningkat dan menyebar semakin luas. Direktorat jenderal pemberantasan penyakit menular dan penyehatan lingkungan pada tahun 2001 meyatakan penyakit DBD adalah penyakit infeksi oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti, dengan ciri demam tinggi yang mendadak dan disertai manifestasi perdarahan dan bertendensi menimbulkan shock dan kematian. (Depkes Ri, 2010)

Tempat perkembangbiakan atau sarang utama nyamuk aedes aegypti adalah tempat-tempat penampungan air di dalam rumah atau di sekitar rumah ataupun di tempat umum, biasanya tidak melebihi jarak 500 meter dari rumah. Tempat perkembangbiakan nyamuk ini berupa genangan air yang tertampung di suatu tempat atau bejana. Nyamuk jenis ini tidak dapat berkembang biak di genangan air yang langsung berpengaruh dengan tanah. 

Pemberantasan sarang nyamuk adalah kegiatan memberantas telur, jentik, dan kepompong nyamuk penular demam berdarah dengue di tempat-tempat perkembangbiakannya. Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) adalah suatu kegiatan masyarakat dan pemerintah yang dilakukan secara berkesinambungan untuk mencegah penyakit demam berdarah. Pemberantasan sarang nyamuk dilakukan dengan melakukan (3M) plus yaitu menguras, menutup dan mengubur.

Terdapat suatu upaya pengawasan atau pemantauan jentik nyamuk demam berdarah yang biasa disebut dengan jumantik. Jumantik adalah singkatan dari juru pemantau jentik nyamuk. Istilah ini digunakan bagi para petugas khusus yang berasl dri lingkungan sekitar yang secara sukarela mau bertanggung jawab untuk melakukan pemantauan jentik nyamuk demam berdarah, Aedes Aegypti di wilayahnya. Jumantik adalah warga masyarakat yang dilatih untuk melakukan proses edukasi dan memantau pelaksanaan PSN 3M Plus oleh masyarakat. 

Tugas para jumantik diantaranya adalah:

 memeriksa penerapan jentik nyamuk pada tempat-tempat penampung air di dalam dan di luar rumah, dan tempat – tempat yang dapat tergenang air

Memberikan peringatan kepada pemilik rumah agar tidak membiarkan banyak tumpukan pakaian atau banyak pakaian yang tergantung di dalam rumah.

Mengecek kolam ikan agar bebas dari jentik nyamuk.

Memeriksa rumah kosong atau rumah yang tidak berpenghuni untuk melihat penerapan jentik nyamuk pada tempat-tempat penampungan air yang ada.

Membubuhkan bubuk larvasida pada tempat tempat penampungan air yang sulit dikuras atau dibersihkan (Depkes RI, 2010) 

Angka Bebas Jentik (ABJ) adalah ukuran yang digunakan untuk mengetahui kepadatan jentik degan cara menghitung rumah atau bangunan yang tidak ditemukan atau dijumpai jentik dibagi dengan jumlah seluruh rumah atau bangunan. Dengan demikian keadaan bebas jentik merupakan suatu keadaan dimana ABJ lebih atau sama dengan 95%. Keadaan dimana parameter ini diketahui jumlah telur, jentik dan kepompong nyamuk penular DBD (Aedes aegypti) berkurang atau tidak ada sama sekali. Dengan demikian, semakin tinggi nilai ABJ di suatu daerah menunjukkan semakin rendahnya resiko terjdinya penyakit demem berdarah dengue dan begitu juga sebaliknya, semakin rendah nilai ABJ maka semakin tinggi resiko penyakit demam berdarah di suatu wilayah.


Rumus Angka Bebas Jentik  

     Jumlah rumah tidak ditemukan jentik

ABJ  =  _________________________________  x 100%

  Jumlah rumah diperiksa


Di bawah ini  adalah data Angka Bebas Jentik Di Indonesia Tahun 2010 -2019

No

Tahun

ABJ


1

2010

80,2


2

2011

76,2


3

2012

79,3


4

2013

80


5

2014

24,1


6

2015

54,2


7

2016

67,6


8

2017

46,7


9

2018

31,5


10

2019

79,2


  Sumber : Ditjen P2P Kemenkes RI,2020


Berdasarkan diagram batang di atas mengenai Angka Bebas jentik di Indonesia tahun 2010 – 2019, Nilai Angka Bebas Jentik di Indonesia masih cenderung belum stabil di setiap tahunnya. Dengan angka tertinggi pada tahun 2010 sebesar 80,2% dan angka terendah terjadi pada tahun 2014 yaitu sebesar 24,1%.  Sangat diperlukan kesadaran masyarakat untuk dapat mendukung pencegahan meluasnya vektor nyamuk Aedes Aegypti dengan menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan, terutama keluarga atau masyarakat yang tinggal di daerah atau tempat beresiko yaitu daerah yang sangat banyak atau tinggi angka kasus demam berdarah. 








Daftar Pustaka 

Ngesti W. Utami (2017). “UPAYA MENCEGAH DEMAM BERDARAH DENGAN ANGKA BEBAS JENTIK BAGI KADER KESEHATAN KELURAHAN PANDAN WANGI KOTA MALANG”

Tito Rizki Yulinda (2016). “PENGARUH PELATIHAN PEMANTAUAN JENTIK MANDIRI TERHADAP ANGKA BEBAS JENTIK DI DESA SOKARAJA TENGAH”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Khasiat musik klasik dalammengobati depresi dan stroke non hemoragik